Di Antara Indonesia dan Jerman

Mengenal Program Au Pair di Jerman

By

/

4–6 menit

baca

Program au pair sering dipandang sebagai salah satu jalan yang paling realistis bagi orang Indonesia untuk tinggal di Jerman. Kenapa? Kita bisa belajar bahasa, tinggal bersama keluarga angkat, dan mendapatkan pengalaman budaya menjadi daya tarik utama. 

Jadi, au pair bukan Tenaga Kerja Indonesia. Kata au pair sendiri diambil dari Bahasa Prancis “at par” yang berarti sama. Maksudnya adalah sebagai au pair, kita dianggap sama kedudukannya dengan anggota keluarga yang lain. 

Lantas bagaimana dengan biaya hidup selama tinggal di sana? Semua biaya hidup sebagai au pair ditanggung sepenuhnya oleh keluarga angkat (Gastfamilie). Mulai dari akomodasi (terkadang tiket pesawat pun dibiayai oleh mereka sesuai kesepakatan), asuransi kesehatan, berkas-berkas izin tinggal, sampai biaya kursus bahasa. Selain itu au pair juga diberi uang saku bulanan yang besarnya sekitar 260-400 Euro tergantung keluarga, kontrak, dan situasi. Namun 280 Euro per bulan adalah jumlah yang paling sering dijadikan standar kontrak au pair di Jerman.

Syarat untuk mengikuti au pair:

  • mengharuskan kamu memiliki sertifikat Bahasa Jerman minimal level A1. Ini bertujuan agar kamu bisa komunikasi dasar di keluarga angkat dan mengikuti kehidupan sehari-hari di Jerman.
  • Usia harus berusia 16-28 tahun saat mengajukan visa.
  • Selain itu, keluarga angkat harus punya setidaknya satu anak di bawah umur. Karena pada dasarnya program ini dibuat untuk pertukaran budaya selama 6-12 bulan dengan imbalan bantuan yang berkaitan dengan pengasuhan anak. 
  • alamat kamu di Jerman harus sama dengan alamat keluarga angkat kamu.

Namun, dalam praktiknya, jalur au pair tidak selalu berjalan mulus. Belakangan ini muncul kebingungan dan kekhawatiran terkait proses pengeluaran visa au pair di Kedutaan Jerman di Indonesia. Situasi ini membuat banyak calon au pair mempertanyakan kembali rencana mereka.

Artikel ini mencoba melihat program au pair secara lebih utuh. Dari ekspektasi, realitas, hingga kendala yang muncul belakangan.

Au Pair sebagai “jalan masuk” ke Jerman

Bagi banyak orang Indonesia, au pair sering dipersepsikan sebagai langkah awal yang relatif lebih mudah dibandingkan jalur lain seperti studi atau kerja. Biaya awal dianggap lebih terjangkau, dan ada gambaran kehidupan keluarga yang mendukung proses adaptasi. Persepsi ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi sering kali menyederhanakan kenyataan di lapangan. 

Realitas kehidupan au pair di Jerman

Menjadi au pair berarti tinggal di rumah keluarga angkat dan terlibat dalam rutinitas sehari-hari mereka. Termasuk makan malam, kunjungan keluarga, maupun jalan-jalan. Banyak orang Indonesia memposisikan diri sebagai “pekerja” di keluarga angkat mereka. Mereka enggan untuk ikut acara keluarga atau terlibat dalam kehidupan berkeluarga. Hal ini bisa jadi membuat keluarga angkat tidak nyaman, dan sudah melenceng dari tujuan program ini dibuat. Namun tidak sedikit juga keluarga angkat yang memperlakukan au pair seenaknya. Mereka menjalankan aturan yang tidak sesuai dengan kontrak, sehingga para au pair sering merasa dimanfaatkan. Pada akhirnya, kontrak kerja berakhir dengan konflik, dan au pair terpaksa harus mencari keluarga angkat baru. 

Pengalaman au pair memang sangat beragam, tergantung kesiapan pribadi dan komunikasi dengan keluarga angkat.

Kendala pengeluaran visa akhir-akhir ini

Dalam beberapa waktu terakhir, beredar informasi bahwa proses pengeluaran visa au pair di Kedutaan Jerman di Indonesia mengalami kendala atau penundaan, bahkan penolakan. Sebagian calon au pair melaporkan sulitnya mendapatkan jadwal, ketidakjelasan proses, atau penolakan tanpa penjelasan rinci. 

Sehingga muncul tanda tanya. Apa alasan Kedutaan Jerman di Indonesia melakukan penolakan terhadap pengeluaran visa au pair?

Banyak yang berasumsi ini adalah dampak dari isu politik terhadap imigran di Jerman. Namun untuk berpikir ke sana, sepertinya terlalu jauh.

Bisa baca di artikel Memahami Kebiasaan Unik Orang Jerman untuk Warga Indonesia, bagaimana Jerman sangat disiplin dengan aturan dan prosedur. Kalau visa au pair kamu ditolak, benarkah sudah sesuai dengan aturan dan persyaratan yang berlaku?

Selain itu perlu ditekankan, bahwa visa au pair ini punya purpose. Artinya visa au pair hanya boleh digunakan untuk program au pair saja, berlaku hanya 6-12 bulan sesuai kontrak dengan keluarga angkat, dan setelah selesai kontrak, pemegang visa diharapkan pulang ke Indonesia. Kalaupun ternyata kenyataannya berbeda, misal pemegang visa au pair mendapat kesempatan untuk FSJ/BFD, Ausbildung, maupun studi, maka au pair tersebut wajib melapor dan apply visa baru di Jerman. Penolakan visa terjadi, jika syarat ini tidak terpenuhi. Atau pada saat interview keterangan kamu tidak jelas, apa rencana kamu untuk mengikuti program au pair, dan apa rencana kamu setelahnya. 

Jadi alasan utama penolakan lebih kepada dokumen yang tidak lengkap atau tidak sesuai, Gastfamilie yang tidak memenuhi syarat. Contoh: keluarga tidak tinggal di satu rumah dengan au pair atau tidak ada anak usia yang sesuai di rumah. Alasan lainnya adalah latar belakang pendidikan/kerja, level bahasa, dan motivation letter tidak cocok dengan tujuan au pair (belajar bahasa dan budaya, bukan kerja penuh atau jalur “pintas” tinggal di Jerman). Kecurigaan tidak akan kembali ke Indonesia juga menjadi alasan penolakan. Bukan berarti Kedubes tidak suka orang Indonesia tinggal di Jerman, namun jika mendapat kesempatan untuk stay lebih lama di Jerman, ya harus mengikuti ketentuan dan prosedur yang berlaku. Kedutaan juga menilai apakah kamu berpotensi dieksploitasi (jam kerja berlebihan, tugas tidak sesuai peran au pair, uang saku tidak wajar) atau program hanya “kedok” untuk kerja murah. 

Jadi, yang bisa kamu lakukan dalam pengajuan visa au pair:

  • Baca sangat teliti halaman resmi visa au pair Kedubes Jerman Jakarta dan ikuti daftar dokumen satu per satu.
  • Perbaiki motlet dan rencana masa depan supaya jelas dan konsisten dengan jawaban saat wawancara
  • Tunjukkan ikatan kuat ke Indonesia: pekerjaan, studi yang akan dilanjutkan, usaha/aset keluarga, surat sponsor orang tua, dsb.

Semoga artikel ini bisa membantu kamu untuk lebih memahami program au pair. Memahami au pair sebagai pengalaman budaya, bukan sekadar “jalan masuk”, bisa membantu mengurangi tekanan dan kekecewaan. Karena pada dasarnya masih banyak keluarga Jerman yang antusias dengan program au pair ini.

Selamat mencoba (kembali)!

Tinggalkan komentar