Di Antara Indonesia dan Jerman

Memahami Kebiasaan Unik Orang Jerman untuk Warga Indonesia

By

/

10–15 menit

baca

Bagi banyak orang Indonesia, tinggal di Jerman bukan hanya soal bahasa, tetapi juga soal kebiasaan dan cara berpikir yang berbeda. Banyak hal terasa “aneh” di awal, bukan karena salah, tetapi karena konteks budaya yang tidak selalu dijelaskan.

Tulisan ini merangkum beberapa hal yang sering membingungkan orang Indonesia saat tinggal di Jerman, terutama di bulan-bulan pertama, agar pengalaman hidup di Jerman bisa dipahami dengan lebih jelas dan realistis.

1. Orang Jerman terlihat dingin, tapi tidak selalu demikian

Di Indonesia, senyum, basa-basi, dan sapaan ringan adalah hal yang wajar. Di Jerman, orang dikenal lebih langsung dan tidak banyak berbasa-basi, terutama dengan orang yang belum dikenal.

Hal ini sering disalahartikan sebagai sikap dingin atau tidak ramah. Padahal, bagi banyak orang Jerman, bersikap netral dan tidak terlalu mencampuri urusan orang lain justru dianggap sopan. Jadi bukan hitam-putih “orang Indonesia ramah, orang Jerman dingin”. Lebih tepatnya: cara ramahnya beda bentuk.

Di setiap basa-basi punya fungsinya sendiri. Contoh.. Di Indonesia basa-basi digunakan sebagai pelumas sosial.

“Sudah makan?”, “Mau ke mana?”, senyum artinya tanda sopan dan hangat.

Di Jerman, basa-basi bukan kewajiban. Kalau tidak ada tujuan, ya… diam itu normal. Jadi diam ≠ marah ≠ sombong. Makanya orang Jerman bisa kelihatan “dingin”, padahal mereka cuma nggak merasa perlu ngomong kalau nggak ada isinya. 

Kalau soal sapaan ringan, kadang orang Indonesia bingung karena, “katanya orang Jerman cuek, kok kadang nyapa?”

Betul. Di desa/kota kecil menyapa orang asing itu normal. Mereka bilang “Hallo”, “Guten Morgen”, atau “Moin”. Di jalur hiking, taman, atau lorong apartemen, sering banget saling sapa. Sedangkan di kota besar lebih jarang, tapi bukan berarti tabu. Jadi konteks lokasi & situasi penting banget. 

Ngobrol sama orang nggak dikenal, seringnya lewat…. keluhan.

Ini lucu tapi nyata. 

Orang Jerman sangat bisa tiba-tiba ngobrol dengan orang asing, tapi topiknya cuaca jelek, kereta telat, antrean lama, birokrasi ribet. Nadanya mengeluh, mengomentari keadaan. Contoh klasik: “Immer diese Bahn…”, “Das dauert heute aber lange, oder?

Buat orang Indonesia, “kok ngajak ngobrol tapi isinya ngeluh?”

Buat orang Jerman, “kita satu penderitaan, yuk bonding sebentar.” 

Itu versi small talk mereka. Terkadang mereka perlu menguping pembicaraan orang hanya untuk nimbrung, biar mereka bisa mengeluh bareng-bareng. 

Sedangkan perihal senyum ke orang asing, di Jerman punya makna yang berbeda. Di Indonesia, senyum tanda sopan, ramah, netral. Di Jerman senyum punya makna. Senyum tanpa konteks bisa dianggap aneh, terlalu personal, atau “kenal ya?”. Makanya orang Jerman jarang senyum ke orang nggak dikenal, bukan karena galak, tapi karena senyum dianggap intentional. Menurut pengalaman pribadi penulis yang sudah tinggal di Jerman kurang lebih 8 tahun, orang Jerman kadang senyum juga ke orang asing (foreigners). Tapi ini sama halnya kayak orang Indonesia yang ketemu bule di Indonesia.

Tapi… begitu sudah kenal, orang Jerman itu tulus dan konsisten. Ini sering baru terasa setelah lama tinggal. Orang Jerman mungkin lama “hangat”, tapi sekali dekat mereka lebih jujur, lebih bisa diandalkan, nggak banyak basa-basi palsu. Buat orang Indonesia, awalnya sepi, tapi ternyata stabil, kalau sudah ketemu yang klik.

Kesimpulannya, kesan “dingin” itu muncul karena standar keramahannya yang beda, bukan karena orang Jerman antisosial. Mereka menyapa, mereka nyeletuk, mereka ngobrol sama orang asing. Tapi gaya ngobrolnya sering observatif atau keluhan, bukan “ramah ceria”.

2. Segalanya perlu janji temu (Termin)

Bertemu dokter, guru, petugas kantor, bahkan terkadang teman sendiri, hampir selalu perlu membuat janji terlebih dahulu. Datang tanpa janji sering dianggap tidak sopan atau tidak efisien.

Bagi orang Indonesia yang terbiasa lebih fleksibel, sistem ini bisa terasa kaku. Dan ini sering bikin orang Indonesia nggak habis pikir, geregetan, sampai “lah, ribet amat sih hidup.” Namun, di Jerman, Termin itu bukan sekedar kebiasaan – tapi fondasi hidup sosial & administratif.

Kenapa orang Jerman “hidup pakai Termin?” 

Ada tiga nilai besar di balik ini. 

Pertama, menghargai waktu (Zeit ist heilig). Waktu adalah komitmen. Datang tanpa janji sama dengan mengambil waktu orang lain tanpa izin. Makanya, “bisa mampir sebentar?” sering dianggap kurang sopan kalau tanpa Termin.

Kedua, batasan personal jelas. Di Indonesia, spontan sama dengan akrab. Di Jerman, spontan sama dengan mengganggu (kecuali sudah sangat dekat). Janji temu itu cara halus bilang: “Aku mau ketemu kamu, tapi tetap menghormati ruang hidupmu.”

Ketiga, sistem di Jerman memang dibangun untuk janji. Administrasi, layanan publik, bahkan kehidupan sosial diatur per slot. Biar efisien & terprediksi. 

Jadi, apa saja yang selalu perlu Termin?

Administrasi. Bürgeramt / Ausländerbehörde, Anmeldung alamat, perpanjang Aufenthaltstitel.

Kesehatan. Dokter umum & spesialis, Psikolog. Datang mendadak? Bisa ditolak atau disuruh datang jam lain (dengan Termin). 

Kehidupan sehari-hari. Potong rambut, bengkel, tukang reparasi.

Yang paling mind-blowing buat orang Indonesia. Ketemu teman mesti pakai Termin. Mau main ke rumah mesti pakai Termin. Kalimat normal yang diucapkan, “Hast du diese Woche Zeit? Mittwoch oder Freitag?” bukan, “Nanti sore aku mampir ya.” Jangankan nanti sore atau minggu ini, terkadang Termin mesti dibuat satu bulan sebelumnya. 

Ada satu hal lagi yang bikin kaget. Pemakaman pun perlu Termin! Dan ini sering terdengar dingin atau “kurang manusiawi” buat orang Indonesia – tapi lagi-lagi logikanya beda. 

Di Jerman, jenazah tidak langsung dimakamkan. Ada proses administratif dan teknis, tanggal dan jam pemakaman harus dipesan (Termin). Biasanya hal ini melibatkan Standesamt untuk mengurus akta kematian, Bestattungsinstitut (rumah duka), Friedhofsverwaltung (pengelola makam), pendeta / pemimpin upacara. Semua pihak ini bekerja berdasarkan jadwal.

Kenapa tidak bisa “secepat mungkin” seperti di Indonesia?

Beberapa alasan utamanya, perihal hukum & administrasi. Kematian harus didaftarkan dulu, dokumen lengkap baru bisa lanjut, dan tidak boleh sembarangan mengubur. Alasan lainnya karena aturan kesehatan & forensik. Jenazah wajib disimpan di ruang pendingin. Kadang perlu otopsi, karena kematian harus diklarifikasi (alami / tidak). Selanjutnya kuburan bukan milik keluarga pribadi, jadi ketersediaan makam & petugas perlu dipastikan. Jadwal penguburan diatur pengelola, ada slot waktu tertentu per hari. 

Kalau begitu, waktunya biasanya berapa lama sampai jenazah bisa dimakamkan?

Umumnya 3-10 hari setelah meninggal. Bisa lebih lama kalau kremasi, keluarga jauh, atau administrasi lintas negara bagian. Ini normal di Jerman dan tidak dianggap tidak hormat.

Buat orang Indonesia, ini yang paling berat. Karena di Indonesia, cepat sama dengan hormat, menunda seolah “tidak ikhlas”. Di Jerman, teratur sama dengan hormat, tergesa-gesa justru tidak pantas. Makanya banyak orang Indonesia merasa, “Kok orangnya sudah meninggal, tapi kayak antre?” Padahal dari sudut pandang Jerman, “Kami memastikan semuanya dilakukan dengan benar dan bermartabat.” Justru ada sisi “manusiawinya” versi mereka. Yang sering baru disadari belakangan, karena dengan begitu keluarga punya waktu berduka dengan tenang, upacara dipersiapkan rapi, semua orang bisa hadir, tidak ada tekanan “harus cepat selesai”. 

Kesedihan tidak dikejar waktu, tapi diwadahi oleh sistem. 

Jadi, apakah semuanya harus Termin?

Ya, nggak juga. Ke toko, kafe, bar, taman, acara publik tentu kamu bisa datang sesukamu. Intinya, makin personal, makin perlu Termin

Kebiasaan Termin ini sering bikin orang Indonesia frustasi. Kenapa? Karena bentrok dengan kebiasaan orang Indonesia. Di Indonesia, spontan sama dengan akrab, fleksibel waktu, “nanti” artinya elastis, mendadak masih wajar. Di Jerman, spontan sama dengan intrusif, mesti tepat waktu, “nanti” perlu dibarengi dengan tanggal & jam yang jelas, mendadak hanya untuk darurat. 

Makanya banyak orang Indonesia merasa, “kok susah banget ketemu orang?” Padahal, “Orang Jermannya cuma mau jelas dan terencana.”

Setelah terbiasa, terasa juga sisi positifnya. Hidup lebih terstruktur, jarang PHP, janji hampir selalu ditepati (kecuali batal karena sakit), kamu bisa atur energi & waktu. 

Banyak orang Indonesia akhirnya bilang, “Capek di awal, tapi tenang setelah adaptasi.”

3. Aturan terasa banyak dan detail

Rasa-rasanya ini inti dari “rasa Jerman” itu sendiri. Aturan di Jerman bukan cuma banyak, tapi detail banget. Buat orang Indonesia, rasanya kayak hidup di buku panduan. 

Dari pemilahan sampah, jam tenang (Ruhezeit), hingga administrasi yang panjang, Jerman dikenal dengan banyak aturan tertulis maupun tidak tertulis. Bagi pendatang baru, ini bisa melelahkan dan membingungkan. Penting untuk dipahami bahwa aturan di Jerman dibuat untuk menciptakan keteraturan, bukan untuk mempersulit individu.

Pola pikir dasarnya, “kalau sudah diatur, ya diikuti”. Di Jerman, aturan sama dengan kesepakatan bersama, ditaati bahkan kalau tidak ada yang mengawasi. Beda dengan kita, aturan sering fleksibel, bisa “disesuaikan situasi”. Di Jerman, “disesuaikan” itu justru dianggap tidak adil buat orang lain. 

Aturan bukan cuma apa, tapi bagaimana. Bukan hanya boleh / tidak boleh, tapi cara melakukannya juga diatur

Contohnya, buang sampah. Bukan cuma “pisahkan”, tapi jenis plastik apa, kertas boleh bersih atau tidak, tutup botol dilepas atau tidak, jam buang sampah pun diatur. Salah buang bisa ditegur tetangga atau parahnya bisa kena denda. 

Jam tenang (Ruhezeit) biasanya malam (22.00 – 06.00), Minggu & hari libur. Di waktu ini dilarang bor, nyapu keras dengan vacuum cleaner, atau musik kencang. 

Buat orang Indonesia, “Lah, siang bolong kok nggak boleh ribut?” Kebayang nggak di Indonesia, orang bisa nyalain musik dangdut keras-keras sepanjang hari tanpa ada yang protes. Di Jerman tetangga pasti sudah lapor ke polisi, karena sudah mengganggu ketenangan. 

Kontrak apartemen pun bisa belasan halaman. Di dalamnya diatur jemur pakaian, tanaman balkon, membuka jendela secara rutin. Ini bukan bercanda.

Di ranah lalu lintas pun, pejalan kaki, sepeda, dan mobil punya hak jelas. Nyebrang sembarangan bisa kena tegur, apalagi kalau ada anak kecil di dekatmu. Karena itu artinya, “Kamu memberi contoh buruk.”

Jadi, kenapa orang Jerman suka aturan?

Rasa adil. Kalau semua ikut aturan, semua diperlakukan sama. 

Rasa aman. Tahu apa yang boleh & tidak. Hidup jadi predictable.

Mengurangi konflik. Karena aturan jelas, orang tidak perlu debat panjang. “Di peraturan tertulis begini.” Selesai. 

Kenapa orang Indonesia sering kena mental?

Karena kita terbiasa membaca situasi. Di Jerman yang dibaca aturan. Akibatnya, ditegur tetangga, ditegur orang asing, ditegur aparat. Dan rasanya, “Kok rese banget sih orangnya?” Padahal di kepala mereka, “Aku sedang menjaga keteraturan bersama.”

Tapi… ada sisi gelapnya juga. Banyak orang Jerman sendiri mengakui, aturan bisa berlebihan, birokrasi lambat, kurang fleksibel. Makanya ada juga frustasi internal, lahir stereotip “typisch deutsch”. 

Jadi kamu nggak lebay. Perasaan itu valid. 

Anggaplah aturan sebagai “peta”, bukan hukuman, jangan personalisasi teguran. Biasanya bukan soal kamu, tapi soal sistem. Intinya, aturan banyak, detail, ditegakkan, kadang bikin stres, tapi tujuannya keteraturan & keadilan. Dan ini nyambung banget dengan budaya Termin, gaya komunikasi yang lugas, kesan “dingin tapi rapi”.

4. Kritik disampaikan secara langsung

Di Jerman, kritik sering disampaikan secara langsung dan terbuka, termasuk di tempat kerja atau pendidikan. Ini bisa terasa kasar bagi orang Indonesia yang terbiasa menyampaikan kritik secara tidak langsung. Ini topik besar dan biasanya bikin orang Indonesia kaget mental.

Mindset dasarnya, jujur sama dengan menghormati.

Di Jerman, menyampaikan kritik sama dengan tanggung jawab, tidak mengkritik berarti membiarkan kesalahan. Sedangkan di Indonesia, menjaga perasaan adalah prioritas, kritik dibungkus halus atau tidak disampaikan. Makanya orang Indonesia sering merasa, “Kok kasar sih ngomongnya?” Padahal di kepala orang Jerman, “Aku menghormati kamu dengan kejujuran.”

Kritik ≠ marah. Ini penting banget. Banyak kritik di Jerman disampaikan datar, tanpa emosi, tanpa senyum, tanpa intonasi lembut. Contohnya, “Das ist falsch”, “So funktioniert das nicht”, “Bitte machen Sie das anders”. Buat telinga Indonesia, “Waduh, aku salah besar nih…”

Dalam konteks Jerman, kritik langsung biasanya tidak bersifat pribadi, melainkan fokus pada masalah atau pekerjaan. Kritik di Jerman biasanya spesifik, langsung ke poin, tidak berputar. Mereka jarang menyelipkan pujian dulu, pakai basa-basi pengaman, menyinggung perasaan secara personal. Yang dikritik adalah tindakan, proses, hasil kerja. Bukan karakter, niat, ataupun harga diri.

Kenapa orang Jerman tidak merasa ini tidak sopan?

Karena kritik tidak dibaca sebagai serangan. Kritik sama dengan alat memperbaiki sistem, sedangkan emosi dianggap mengaburkan pesan. Justru terlalu berputar-putar dianggap tidak efisien, tidak jujur, dan membingungkan.

5. Pemisahan yang jelas antara urusan pribadi dan pekerjaan

Di banyak situasi, orang Jerman memisahkan dengan jelas kehidupan pribadi dan pekerjaan. Pertanyaan tentang keluarga, usia, atau status pribadi tidak selalu dianggap wajar, terutama di lingkungan profesional. Bukan karena dingin, tapi karna boundary itu dianggap sehat dan profesional.

Hal ini berbeda dengan kebiasaan di Indonesia, di mana percakapan pribadi sering menjadi bagian dari membangun kedekatan.

Prinsip dasarnya, kerja sama dengan kerja, pribadi sama dengan pribadi.

Di Jerman, hubungan kerja tidak otomatis jadi hubungan personal. 

Ramah ≠ akrab, akrab ≠ teman dekat.

Kalau di Indonesia, kerja bareng, makan bareng, curhat, jadi “keluarga kantor”. Di Jerman, bisa kerja bertahun-tahun, tetap pakai Sie, dan itu normal.

Di kantor, profesional, bukan personal. Topik obrolan dibatasi. Obrolan aman contohnya seputar cuaca, pekerjaan, rencana liburan (secara umum). Masalah rumah tangga, kondisi keuangan, gosip, opini pribadi yang sensitif jarang dibicarakan. Bukan tabu total, tapi tidak otomatis dibuka. 

Jam kerja sama dengan jam kerja. Datang tepat waktu, kerja fokus, pulang tepat waktu. Lembur bukan kebanggaan, bahkan sering dianggap tanda manajemen buruk. Setelah jam kerja… ya selesai. Email kantor di luar jam kerja boleh tidak dibalas, bahkan atasan pun sering menghormati ini. Bukan karena “aku nggak peduli”, tapi “sekarang aku bukan di mode kerja”.

Teman kantor ≠ teman pribadi (kecuali sudah naik level). Makan siang bareng, normal. Minum kopi bareng, normal. Tapi main ke rumah, belum tentu. Ikut acara keluarga, jarang. Kalau sudah diundang ke rumah, itu tanda kepercayaan besar.

Kenapa pemisahan ini penting buat orang Jerman?

Alasannya, untuk menjaga kesehatan mental. Kerja tidak menggerus hidup pribadi, hak untuk “tidak tersedia”. Keadilan, tidak ada favoritisme, penilaian berbasis kinerja. Kejelasan peran, siapa bertanggung jawab apa, konflik lebih mudah diselesaikan. 

Kenapa orang Indonesia sering salah tafsir?

Karena kita membaca kedekatan lewat kehangatan. Orang Jerman membaca profesionalisme lewat jarak. Akibatnya, “Dia baik di kantor, tapi kok nggak pernah ngajak main?” Padahal, “dia sudah menjalankan perannya dengan benar.”

Tapi bukan berarti orang Jerman antisosial. Banyak dari mereka punya lingkaran teman kecil tapi solid, persahabatan lama (sejak sekolah, kuliah), loyal & konsisten. Mereka tidak cepat membuka, tapi dalam.

6. Mengandalkan sistem, bukan orang

Di Jerman, banyak proses berjalan berdasarkan sistem dan prosedur. Surat resmi, formulir, dan jadwal memiliki peran penting. Bantuan pribadi tidak selalu bisa diandalkan.

Bagi orang Indonesia yang terbiasa mengandalkan relasi, hal ini bisa terasa tidak personal. Namun, sistem ini bertujuan menciptakan keadilan dan konsistensi.

Prinsip utamanya, sistem > niat baik.

Di Indonesia, “kenal orangnya” bisa menyelesaikan banyak hal. Empati personal sering jadi solusi. Di Jerman, niat baik tidak cukup, yang menentukan adalah aturan & prosedur

Lantas, apa alasannya orang Jerman lebih percaya sistem?

Keadilan. Semua diperlakukan sama, tidak tergantung siapa kamu, kenal siapa, seberapa pintar bicara. Kalau ada celah “dibantu karena kasihan”, dianggap tidak adil untuk orang lain. 

Perlindungan semua pihak. Sistem melindungi warga, petugas, institusi. 

Mengurangi konflik personal. Dengan sistem, penolakan terasa impersonal, emosi diredam, keputusan bisa dijelaskan dengan dokumen. 

Buat orang Indonesia, ini terasa kaku, tidak empati, “nggak mau nolong”. Padahal dalam logika Jerman, menolong di luar sistem bisa berbahaya. 

Empati versi Jerman itu… ya struktural.

Ini bagian yang sering nggak kelihatan. Di Indonesia, empati sama dengan interaksi personal. Di Jerman, empati dikemas dalam bentuk sistem yang mencegah ketidakadilan. 

Kenapa orang Jerman jarang “dibujuk”?

Karena setiap keputusan pribadi bisa melanggar hukum, menciptakan preseden, dan dianggap korupsi kecil. 

Tapi jujur, bukan tanpa kekurangan. Sistem bisa lambat, tidak fleksibel, terasa dingin di situasi darurat. Orang Jerman sendiri sering mengeluh soal ini. 

Jadi intinya, semua hal-hal yang membingungkan di Jerman sebenarnya semuanya berakar pada satu nilai, yaitu kejelasan, keadilan, dan prediktabilitas. Tulisan ini tidak bertujuan menilai mana yang lebih baik, tetapi memberi konteks agar pengalaman tinggal di Jerman bisa dipahami dengan lebih tenang dan realistis.

Tinggalkan komentar